Pages

Wednesday, April 11, 2012

APAKAH BENAR CINTA ITU TAK HARUS MEMILIKI ?

Kisah Nyata: Aku tidak mengerti, kenapa cinta tidak harus memiliki. Yang aku tahu saat itu aku sangat mencintai dia. Semua berbeda bersama waktu yang silih berganti. Panggil saja aku Alif (bukan nama asli). Aku sudah menjalin cinta selama 2 tahun lamanya dengan seorang wanita. Awal jumpa denganya hingga aku jalani 1 tahun, perasaan ku biasa saja.

Mungkin setelah 1 tahun baru aku merasakan cinta di hidupku. Aku adalah mahasiswa di salah satu Universitas suwasta. Di kampus, aku terkenal sebagai senior yang tidak mementingkan penampilan, namun aku di sana menjabat sebagai ketua di sebuah organisasi mahasiswa.

Semua temanku bilang, aku orang yang simple, dan aku asik untuk diajak share. Temanku di kampus cukup banyak. Selain mereka menilaiku sebagai peria yang simple, aku juga disebut peria yang setia, maklum selama aku kuliah hanya satu wanita yang aku pacari. Aku tipe peria yang tidak mudah jatuh cinta. Namun ketika aku jatuh cinta maka aku akan memberikan cintaku hanya pada satu wanita yaitu kekasihku.

Aku mengenal pacarku saat kami sedang share. Kebetulan kami sering satu kelas, dan sering berjalan bersama. Dia wanita yang baik, dan pengertian. Kami sering menghabiskan waktu berdua di rumah kami masing-masing, karna kami sudah saling mengenal keluarga kami satu sama lain.

Indahnya cinta itu kurasa. Awal aku berpacaran denganya tak seromantis ini. Aku kurang memperhatikan dia walaupun sebenarnya setatus kami adalah berpacaran. Mungkin karna sifatku yang sedikit cuek. Tapi semakin bertambahnya waktu dia semakin meyakinkan aku. Tiada hari tanpa telpon darinya, entah menanyakan kabar ataupun menanyakan hal yang lainya. Dia sungguh perhatian.

Dia wanita yang biasa saja. Namun dia memberiku rasa nyaman saat ada di sampingnya. Aku sangat dekat dengan orang tuanya begitupun dia. Sampai suatu ketika aku harus pulang kekampung halamanku untuk suatu urusan. Sungguh aku takut, saat kami jauh kami akan menghadapi sebuah perpisahan dan ternyata dia pun berfikir seperti aku. 

Akupun izin pamit untuk kembali kekampungku. Dia memegang tanganku dan berkata bahwa dia sangat mencintai aku. Aku coba tenangkan dirinya yang gunda, dan aku katakan aku tidak akan berpaling darinya. Perpisahan kami diiringi oleh air mata. Dia pun ikut mengantarku ke bandara sungguh dia telah membuatku jatuh cinta.

Sampailah aku dikampung halamanku. Sehari, duahari rasa rindu sangat membunuhku. Namun semua terobati saat suaranya terdengar. Dia sering menelponku, sehari mungkin 7 kali dia menelponku. Aku sangat rindu dia. Urusanku disini belum selesai. Kutahan rasa rindu yang menghujam batinku. Aku selalu berdo’a, semoga dia disana selalu baik-baik saja.

waktu terus berjalan. Tidak terasa, 6 bulan lamanya aku disini. Sore itu yang beda, biasanya dia menelponku namun tidak ada telponnya sama sekali, sms pun tidak ada. Ikeadaan itu berjalan 3 hari lamanya. Mungkin dia tidak ada pulsa, aku coba menenangkan hatiku dengan berfikiran baik tentang dia. Namun aku semakin merasa beda, saat aku menelponnya selalu sibuk bahkan kadang dimatikan. Sungguh kesal hati ini di buatnya.

Apa yang sebenarnya terjadi, akupun tak tahu. Aku sabar menunggu kepulanganku nanti. Tibala saat dimana aku kembali ke Jakarta, betapa senangnya hatiku, aku akan bertemu kekasihku yang sangat ku cinta. Aku telphon dia untuk mengabarkan jikalau aku akan pulang. Sampailah aku di Jakarta, namun tak ada aku lihat kekasihku itu. Hanya teman teman dekatku dan keluarga ku berada di bandara. Dengan hati yang kesal, aku telphon dia. Tertahan amarahku ketika dia katakan “sayang” dia tidak bisa datang karna ada urusan, aku pun akhirnya memakluminya.

Kampusku tercinta. Tibala aku disana. Kawan-kawanku menyambutku dengan kejutan. Sungguh bahagia hatiku. Namun ada yang kurasa kurang, tiba-tiba ada yang menutup mataku dari belakang. Ternyata dia kekasihku, aku melepas rasa rinduku dengan peluk mesrahku.kuluapkan semuanya dalam satu pelukan. 

aku mengajaknya untuk pergi berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu berdua,namun dia menolaknya. Dia bilang dia sedang sibuk mengerjakan tugas akhir semesternya. Aku berinisiatif untuk membantu kekasihku ini. Kubantu dia mengerjakan tugas kuliahnya. Namun ada yang berbeda dari dia, dia tak seperti dulu. Entah kenapa saat aku bicara denganya kami selalu tidak nyambung. Ini sangat aneh di tambah berita miring dari kawan-kawanku tentang dia yang menduakan aku. Aku tetap percaya kekasihku ini tanpa mendengarkan kata kata kawan-kawanku.

sampai disatu hari dia meminta untuk bertemu denganku untuk mengatakan sesuatu, aku pun menyanggupinya. Kami pun bertemu saat istirahat. Aku bertanya padanya, apa yang ingin dia katakan. Dia menjawab dengan lugas bahwa dia ingin putus denganku, alu pun terbatah dan aku tak tahu harus berbuat apa. Dia memberikan alasan padaku bahwa dia ingin istirahat dulu demi kuliahnya. Sungguh diluar logika buatku, aku merasa tak pernah menghambat kuliahnya bahkan aku membantunya untuk belajar. Aku coba tetap percaya dia karna aku sayang dia.

No comments:

Post a Comment