Pages

Wednesday, December 28, 2011

pengalaman liburan di yogyakarta

Ketika libur Natal 2007 dan Tahun Baru 2008 yang lalu, saya bersama beberapa saudara saya pergi ke Jogja untuk merayakan tahun baru sekalian jalan-jalan.
Kami berangkat dari Stasiun KA Senen pada tanggal 30 Desember 2007 menggunakan KA dengan tiket seharga Rp. 110.000,- perorang. KA Berangkat pukul 19:30, istirahat sekitar 10 menit dari yang tertulis di karcis. Perjalanan dilalui dengan tidur sambil mendengarkan lagu di HP dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05:30 ketika kami sudah memasuki Stasiun KA Tugu. Berarti perjalanan kami tempuh dalam waktu 10 jam. Seharusnya perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 9 jam “saja” tapi ternyata dalam perjalanan KA yang kami tumpangi banyak berhenti untuk memberi kesempatan kepada KA lain yang akan lewat.
Begitu keluar dari KA, kami segera mencari tempat penginapan. Berhubung hari ini adalah hari terakhir di tahun 2007, maka banyak orang yang ingin merayakan malam terakhir di kota pariwisata seperti Jogja, sehingga tempat penginapan hampir semuanya penuh. Dari beberapa tukang becak yang kami temui kami peroleh informasi bahwa “semua” penginapan menaikkan tarifnya sebesar 100% . Tapi kami masih beruntung mendapatkan sebuah GH yang murah meriah walau fasilitasnya sangat minim, tapi lumayanlah untuk sekedar tidur.
Hari Pertama, kami jalan-jalan di sepanjang jalan Mailoboro. Tiba-tiba datang tukang becak menawarkan tumpangan ke Dagadu dengan ongkos hanya Rp. 5.000,- dan dia juga menawarkan akan mengantarkan kami PP. Akhirnya kami naik becak tersebut dan kami di bawa ke kios-kios Dagadu di sekitar Keraton, tempat yang katanya menjual Dagadu asli. Beberapa toko kami masuki tapi belum merasa puas dengan penawaran yang diberikan, dan herannya si tukang becak dengan setia mengantarkan kami menjelajahi kios-kios, sampai-sampai kami mengira jangan-jangan si tukang becak tadi minta Rp. 50.000,- dan bukannya Rp. 5.000,-. Akhirnya kami mendapat tempat yang pas, dan kami membeli beberapa kaos Dagadu dan Batik. Lalu tukang becak mengantarkan kami ke Keraton, dan kami membayar hanya Rp. 5.000,-. Kami sempat heran mengapa si tukang becak mau dibayar demikian murah padahal dia sudah mengayuh kami kemana-mana. Ternyata kami dapat informasi bahwa si tukang becak dapat komisi dari toko dimana kami membeli kaos, dan tidak tanggung-tanggung, komisinya “katanya” bisa mencapai 30%. Setelah kami hitung-hitung barang belanjaan yang kami bawa, ternyata si tukang becak bisa untung banyak. Ternyata gitu toh cara kerja mereka.

No comments:

Post a Comment